Rabu, 24 April 2013

makalah pengetahuan menurut august comte


PENGETAHUAN
MENURUT AUGUST COMTE
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliahMetodologi Penelitian

 









Disusun Oleh:
Indah Fitriana  (210210058)
Azizul              (210210073)
 
Dosen Pengampu:
Aji Damannuri, M.E.I



JURUSAN SYARI’AH
PROGRAM STUDI MUAMALAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) didalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam ketauan aktif.
Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa pengetahuan dalam arti luas berarti semua kehadiran internasional objek dalam subjek. Namun dalam arti sempit dan berbeda dengan imajinasi atau pemikiran belaka, pengetahuan hanya berarti putusan yang benar dan pasti (kepastian, kebenaran). Disini subjek sadar akan hubungan objek dengan eksistensi. Pada umumnya, adalah tepat kalau mengatakan pengetahuan hanya merupakan pengalaman “sadar”. Karena sangat sulit melihat bagaimana persisnya suatu pribadi dapat sadar akan suatu eksistensi tanpa kehadiran eksistensi itu di dalam dirinya.
Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan diantaranya metode positifisme yang dikeluarkan oleh August Comte yang akan dibahas dalam makalah ini.  

B.     Rumusan Masalah
1.      Biografi August Comte
2.      Teori positifisme August Comte.
3.      Penggolongan ilmu pengetahuan menurut August Comte.
4.      Perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam beberapa tahap.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi August Comte
Nama lengkap Auguste Comte (1798-1857) adalah Isidore Auguste Marie Francois Xavier. Beliau adalah filsuf dan ilmuwan sosial terkemuka yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu kemasyarakatan atau sosiologi. Comte lahir di kota Montpellier di Perancis selatan dari keluarga kelas menengah konservatif. Comte menerima didikan ilmiah yang baik di Ecole Polythecnique di Paris, sebuah pusat pendidikan berhaluan liberal.
Comte mencetuskan suatu  sistem ilmiah yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan baru, yaitu sosiologi. Pandangan Comte atas sosiologi sangat pragmatis. Ia berpendapat bahwa sesungguhnya analisis untuk membedakan "statika" dan "dinamika" sosial , serta analisa masyarakat sebagai suatu sistem yang saling tergantung haruslah didasarkan pada konsensus. Paradigma Fungsionalis dan paradigma ilmiah alamiah yang dirumuskan oleh Comte tetap memberi warna menonjol dalam sosiologi saat ini.
Auguste Comte dengan bukunya "Course de Philosophie Positive" menerangkan bahwa pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat harus melalui urutan-urutan tertentu yang kemudian akan sampai pada tahap akhir yaitu tahap ilmiah.
Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).
B.     Teori Positivisme August Comte  
Pendiri dan sekaligus tokoh terpenting dari aliran filsafat positivism adalah Auguste Comte (1798-1857). Filsafat Comte anti-metafisis, ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour privoir (mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus menyelidi gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala ini supaya ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi. Semenjak Hegel dank arena Hegel muncul “mode” di kalangan para filsuf untuk “meramalkan” perkembangan dunia sebagaimana dikembangkan oleh Auguste Comte, Karl Marx, Emille Dukheim, Talcot Parson, Amitai Etzioni van Peursen, Alvin Toffler, John Naisbitt dan lain-lain.[1]
Filsafat positivsme Comte disebut juga faham empirisme-kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan seiring. Bagi Comte pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara “terisolasi”, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori. Metode positif Auguste Comte juga menekankan pandangannya pada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Baginya persoalan filsafat yang penting bukan masalah hakikat atau asal mula pertama dan tujuan akhir gejala-gejala, melainkan bagaimana hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain.
Filsafat Auguste Comte terutama penting sebagai pencipta ilmu sosiologi. Kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. Comte membagi masyarakat atas “statika sosial” dan “dinamika sosial”. Statika social adalah teori tentang susunan masyarakat, sedangkan dinamika social adalah teori tentang perkembangan dan kemajuan. Sosiologi ini sekaligus suatu “filsafat sejarah”, karena Comte memberikan tempat kepada fakta-fakta individual sejarah dalam suatu teori umum, sehingga terjadi sintesis yang menerangkan fakta-fakta itu. Fakta-fakta itu dapat bersifat politik, yuridis, ilmiah, tetapi juga falsafi, religious, atau kultural.[2]
August Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen dan eksperimen itu sendiri memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur dengan derajat panas jauh diukur dengan meteran dan lain-lain. Kita juga cukup mengatakan api panas atau matahari panas, kita juga cukup mengatakan panas sekali, panas, dan tidak panas. Kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dengan didukung bukti-bukti empiris yang terukur.[3]
C.    Penggolongan Ilmu Menurut August Comte
1.      Ilmu pasti (matematika)
Ilmu pasti merupakan dasar bagi semua ilmu pengetahuan, karena sifatnya yang tetap, abstrak dan pasti. Dengan metode-metode yang dipergunakan melalui ilmu pasti, kita akan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang sebenarnya, yaitu hukum ilmu pengetahuan tingkat “kesederhanaan dan ketetapan” yang tertinggi, sebagaimana abstraksi yang dapat dilakukan akal manusia.
2.      Ilmu perbintangan (astronomi)
Dengan didasari rumus-rumus ilmu pasti, maka ilmu perbintangan dapat menyusun hukum-hukum yang bersangkutan dengan gejala-gejala benda langit. Ilmu perbintangan menerangkan bagaimana bentuk, ukuran, kedudukan, serta gerak benda langit seperti bintang, bumi, matahari, atau planet-planet lainnya.
3.      Ilmu alam (fisika)
Ilmu alam merupakan ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu perbintangan, maka pengetahuan mengenai benda-benda langit merupakan dasar bagi pemahaman gejala-gejala organik. Gejala-gejala dalam ilmu alam lebih kompleks, yang tidak ada dapat difahami tanpa terlebih dahulu memahami hukum-hukum astronomi. Melalui gejala-gejala fisika dan hukum  fisika, maka akan dapat diramalkan dengan cepat semua gejala yang ditunjukkan oleh suatu benda, yang berada pada suatu tatanan atau keadaan tertentu.[4]
4.      Ilmu kimia (chemistry)
Gejala-gejala dalam ilmu kimia lebih kompleks daripada ilmu alam, dan ilmu kimia mempunyai kaitan dengan ilmu hayat (biologi) bahkan juga dengan sosiologi. Pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia ini tidak hanya melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).
5.      Ilmu hayat (fisiologi atau biologi)
Ilmu hayat (biologi) merupakan ilmu yang kompleks dan berhadapan dengan gejala-gejala kehidupan. Gejala-gejala dalam ilmu hayat ini mengalami perubahan yang cepat dan perkembangannya belum sampai pada tahap positif. Ini berbeda dengan ilmu-ilmu sebelumnya seperti ilmu pasti, ilmu perbintangan, ilmu alam, dan ilmu kimia yang telah berada pada tahap positif. Karena sifatnya yang kompleks, maka cara pendekatannya membutuhkan alat yang lebih lengkap.[5]
6.      Fisika sosial (sosiologi)
Fisika sosial (sosiologi) merupakan urutan tertinggi dalam penggolongan ilmu pengetahuan. Fisika social sebagai ilmu berhadapan dengan gejala-gejala yang paling kompleks, paling konkret dan khusus, yaitu gejala yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia dalam berkelompok.[6]
Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte secara garis besar dapat dikemas sebagai berikut:




A. ILMU PENGETA-HUAN (yang positif)
Logika (Matematika Murni)
Ilmu Pengetahuan Empiris
Astronomi
Fisika
Kimia
Biologi
Sosiologi
B. FILSAFAT
Metafisika


Filsafat Ilmu Pengetahuan
Pada umumnya

Pada khususnya
D.    Perkembangan ilmu berlangsung melalui beberapa tahap
1.      Teologis :  -> fantatisme ( primitive)
è Politeisme
è Monotheisme
2.      Metafisis
3.      Positivisme berdasarkan dengan fakta-fakta, continuity, kepastian dan kehati-hatian (kecermatan).











KESIMPULAN


A.    Biografi Comte Nama lengkap Auguste Comte (1798-1857) adalah Isidore Auguste Marie Francois Xavier. Beliau adalah filsuf dan ilmuwan sosial terkemuka yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu kemasyarakatan atau sosiologi. Dan menjadi bapak sosiologi.
B.     Pendiri dan sekaligus tokoh terpenting dari aliran filsafat positivism adalah Auguste Comte (1798-1857). Filsafat Comte anti-metafisis, ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour privoir (mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus menyelidi gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala ini supaya ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi.
C.     Penggolongan ilmu menurut comte
o   Ilmu pasti (matematika)
o   Ilmu perbintangan (astronomi)
o   Ilmu alam (fisika)
o   Ilmu fisika (chemistry)
o   Ilmu hayat (biologi)
o   Ilmu sosial (sosiologi)
E.     Perkembangan ilmu berlangsung melalui beberapa tahap
1.      Teologis :  -> fantatisme ( primitive)
è Politeisme
è Monotheisme
2.      Metafisis
3.      Positivisme berdasarkan dengan fakta-fakta, continuity, kepastian dan kehati-hatian (kecermatan).


DAFTAR PUSTAKA


Mustansir , Rizal, Filsafat Ilmu (Yogyakarta:Belukar),2001
Bakhtiar,Amsal. Filsafat Ilmu (Jakarta: tt.)2004
Sumatri, Suila “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer” (Jakarta, tt)
Sugiharto, Bambang “Post Modernisme Tentang Bagi Filsafat” (Jogjakarta: pustaka media), 2001
Saidi ,Anas “Metodologi Penelitian PPLK-LIPI


[1] Rizal Mustansir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta, 2001), hal. 86.
[2] Ibid., hal. 87.
[3] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: 2004), hal. 154.
[4] Suila Sumatri “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer” (Jakarta, tt), hal. 80.
[5] Bambang Sugiharto “Post Modernisme Tentang Bagi Filsafat” (Jogjayarka, 1996), hal. 150.
[6] Anas Saidi “Metodologi Penelitian PPLK-LIPI”, hal. 17.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar